Like

Selasa, 29 Mei 2012

MEMILIH ILMU, GURU, TEMAN DAN TENTANG KETABAHAN


Penuntut Ilmu hendaklah memilih yang terbagus dari setiap bidang ilmu, memilih ilmu apa yang diperlukan dalam urusan agama saat ini, kemudian apa yang diperlukan diwaktu nanti. Hendaklah memprioritaskan ilmu Tauhid dan mengenal ALLAH SWT berdasar dalil. Dan hendaklah memilih ilmu kuna, bukan ilmu yang baru. Para ulama berkata “tekunilah ilmu yang kuna dan jauhilah ilmu yang baru” (ilmu kuna adalah ilmu yang diajarkan oleh Nabi SAW, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. sedangkan ilmu baru adalah ilmu-ilmu yang lahir setelah periode tersebut). Waspadalah, jangan terperangkap dalam ilmu perdebatan yang tumbuh subur setelah habisnya para ulama’ besar, karena ilmu tersebut akan menjauhkan pelajar dari fiqih, membuang-buang umur dan melahirkan sifat buas serta permusuhan. Fenomena demikian termasuk tanda-tanda kiamat, hilangnya ilmu dan fiqih.

Dalam hal memilih guru, hendaklah memilih siapa yang lebih alim, lebih waro’ dan lebih berusia, seperti halnya Imam Abu Hanifah menjatuhkan pilihannya pada Hammad bin Sulaiman setelah terlebih dahulu berfikir dan mempertimbangkan. Kata beliau “saya menemukan beliau seorang guru yang luhur, santun dan penyabar disegala urusan” dan katanya lagi “saya menetap pada Syaikh Hammad bin Sulaiman dan ternyata saya berkembang”.

Berkata Imam Abu Hanifah ra : “saya pernah mendengar seorang Hakiim (=ahli hikmah) dari Samarkand berkata “ada seorang pelajar bermusyawarah dengan saya tentang urusan belajar, padahal ia telah bermaksud ke Bockara untuk belajar disana””. Demikianlah dianjurkan untuk selalu bermusyawarah dalam segala urusan. Sesungguhnya ALLAH SWT memerintah RosulNya agar bermusyawarah dalam segala urusan, padahal tiada orang yang lebih cerdas disbanding beliau –toh masih disuruh bermusyawarah-. Berkata Ali bin Abu Tholib karomallahu wajhah “tidak akan hancur seseorang karena bermusyawarah”. Ada dikatakan “orang sempurna, setengah orang dan orang tidak berarti. Orang sempurna  ialah yang memiliki pendapat benar dan mau bermusyawarah, setengah orang ialah yang memiliki pendapat benar tapi tidak meu bermusyawarah atau yang mau bermusyawarah tetapi tidak punya pendapat, sedang orang tak berarti ialah yang tidak punya pendapat dan tidak juga mau bermusyawarah”. Syaikh Ja’far as Shodiq berpesan kepada Sufyan Ats Tsauri “musyawarahkanlah urusanmu dengan mereka yang takut kepada ALLAH”.

Menuntut ilmu termasuk urusan yang sangat mulia sekaligus sulit, maka musyawarah disini menjadi amat penting dan harus dilakukan. Seorang ahli hikmah berkata “Bila anda pergi ke Bochara, maka janganlah tergesa melibatkan diri kedalam kontroversi para Imam. Tenanglah dua bulan, untuk berfikir guna memilih guru. Karena jika anda menghadap seorang alim dan mulai belajar kepadanya, boleh jadi pelajarannya tidak menarik bagimu lalu kamu tinggalkan dan berpindah ke guru lain, maka belajarmu tidak berkah”. Maka renungkanlah dua bulan dalam memilih guru, dan musyawarahkanlah agar kelak tidak perlu meninggalkan serta berpaling darinya. Kemudian barulah menetap dihadapan guru pilihan itu sehingga mendapat berkah ilmunya dan manfaat sebanyak-banyaknya.

Ketahuilah, bahwa sabar dan tabah adalah pangkal yang besar untk segala urusan, tetapi jarang yang melakukan. Seperti syair dikatakan sebagai berikut :
Semua orang, berlomba menuju kemuliaan
Tetapi jarang yang punya ketabahan
Ada dikatakan “keberanian adalah sabar sejenak”. Maka sebaiknya pelajar berhati tabah dan sabar dalam berguru. Dalam mempelajari suatu kitab jangan ditinggalkan terbengkalai, dalam suatu bidang study janganlah berpindah ke bidang lain sebelum yang pertama sempurna dipelajari, dan dalam hal daerah belajar jangan berpindah ke daerah lain kecuali karena terpaksa. Dan pelajar hendaknya tabah dalam melawan kehendak hawa nafsunya, penyair berkata :
Hawa nafsu adalah wujudnya kehinaan
Jajahah nafsu adalah jajahan kehinaan
Hendaklah pula bersabar dalam menghadapi segala ujian dan bencana, ada kata mutiara “gudang-gudang harapan berada dalam rentetan ujian”.
Ah, tak mampu kau meraih ilmu,
tanpa dengan enam perilaku
berikut saya jelaskan semua padamu
cerdas, semangat, sabar dan cukup sangu,
ada piwulang guru dan sepanjang waktu.

Mengenai teman belajar, hendaklah memilih orang yang tekun, wira’I, berwatak jujur dan mudah memahami masalah. Hendaklah menjauh dari pemalas, pengangguran, suka cerewet, suka mengacau dan gemar memfitnah. Penyair berkata :
Jangan kau bertanya “bagaimana si Fulan?”
Cukup kau tahu siapa kawannya.
Karena setiap Fulan pasti manut kawannya.
Bila kawannya durhaka
Maka jauhilah segera si Fulan,
Bila si kawan bagus budinya
Maka rangkullah Fulan
Bahagia buat anda.

Jangan kau temani orang pemalas, hindarilah semua tingkahnya
Banyak orang shaleh menjadi rusak, karena imbas dari orang lain.
Menjalar ketololan pada cendekia, amat cepat terlalu
Laksana bara api, ia padam diatas abu

Kawan yang jahat lebih berbahaya disbanding uar berbisa
Kawan yang jahat menyeretmu ke neraka Jahim
Ambillah kawan yang bagus
Dia mengajakmu ke sorga Na’im

Bila kau ingin mendapat ilmu dari ahlinya,
Atau ingin tahu ghoib dan memberitakannya,
Maka petiklah pelajaran tentang isi bumi dari namanya
Dan petiklah pelajaran tentang seseorang dari temannya.

Wallahu a’lam bish showaab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar